Mengulas Tentang Tetanus, Apa Saja Penyebabnya dan Bagaimana Cara Mengobatinya

Share:
Seringkah Anda mendengar orang tua yang selalu mengingatkan anaknya agar menggunakan alas kaki saat bermain agar tidak terkena paku tajam di lapangan? Bukan hanya kulit anaknya berdarah saja yang dikhawatirkan namun juga ancaman tetanus sering juga disebut ini yang lebih menjadi perhatian. Mengapa bisa terjadi? Dan apakah bahayanya jika anak atau Anda terkena ini? Berikut ini adalah uraian mengenai ini yang bisa Anda jadikan tambahan wawasan untuk bisa lebih berhati-hati.

Penyakit ini merupakan kondisi dimana tubuh terinfeksi oleh kuman Clostridium Tetani. Kuman ini sendiri sebenarnya tidak terdapat pada paku atau benda tajam, namun pada tanah, debu, kotoran hewan atau karat yang menyelubungi logam itu sendiri. Kuman ini masuk ke dalam tubuh melalui luka kulit yang terbuka dan langsung bercampur dengan aliran darah. Sehingga saat Anda terkena paku misalnya, belum tentu langsung akan terkena ini jika tak ada kuman Chlostridium Tetani yang Anda injak juga saat ada luka terbuka di bagian kaki. Selain dari injakan kaki, kuman ini juga bisa masuk dari berbagai bagian tubuh lainnya yang terluka dan menyobek pembuluh darah atau otot.

Apa yang terjadi jika Anda terkena infeksi kuman ini? Gejala yang ditimbulkan akibat Chlostridium Tetani yang menginfeksi tubuh dimulai dari area tubuh yang mati rasa, kaku dan tegang sekitar 4 hingga 21 hari setelah tubuh terinfeksi. Jika dibiarkan, infeksi ini bisa menyebabkan kematian karena terjadi kaku otot sehingga penderita akan kesulitan bernafas menelan apalagi bergerak. Hingga saat ini belum ada pengobatan yang pasti untuk mengatasi ini sehingga penanganan sedini mungkin pada saat Anda mendapatkan luka terutama di kaki harus dilakukan.

Meski belum ada obat yang tepat untuk mengatasi tetanus, namun kini sudah ada tindakan yang digunakan untuk meminimalisir hingga menghilangkan gejala yaitu dengan obat dan suntikan antitetanus. Selain pengobatan, tindakan lain yang lebih efektif adalah pencegahan agar tubuh lebih kebal terhadap kuman Chlostridium Tetani ini. Tindakan tersebut adalah dengan memberikan imunisasi baik kepada bayi atau anak maupun kepada orang dewasa.

Untuk anak-anak, vaksin ini diberikan bersama dengan vaksin lainnya dalam imunisasi DPT. Imunisasi DPT diberikan 3 kali untuk anak usia di bawah 1 tahun. kemudian saat menginjak usia balita 1 kali dan 1 kali lagi saat remaja atau berusia 16 tahun. Selain anak-anak, orang dewasa juga bisa mendapatkan vaksin ini bahkan wajib hukumnya terutama untuk wanita yang akan menikah dan ibu hamil. Berikut ini adalah jadwal pemberian vaksin pada wanita dewasa sebelum menikah dan ibu hamil:

• TT1, 2 minggu sebelum pernikahan.
• TT2, 1 bulan setelah pemberian TT1.
• TT3, diberikan pada 6 bulan sejak pemberian TT2.
• TT4, diberikan setelah 12 bulan sejak pemberian TT3.
• TT5, diberikan setelah 12 bulan sejak pemberian TT4.

Sedangkan untuk ibu hamil, vaksin diberikan pada usia kehamilan menginjak 5 atau 6 bulan.

Karena bahaya tetanus yang bisa sampai mengancam nyawa manusia, alangkah baiknya Anda atau anak Anda tak melewatkan jadwal pemberian vaksin ini baik dalam bentuk imunisasi maupun suntikan antitetanus. Selain itu, untuk tindakan pencegahan lainnya, segera bersihkan luka luar di kulit lalu balut menggunakan kasa steril hingga luka tersebut menutup kembali dengan sempurna sehingga tidak memberikan kesempatan kuman Chlostridium Tetani untuk menginfeksi.